Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Mei 2016

Tujuh Kota Menakjubkan

Setelah sukses dengan program Tujuh Keajaiban Dunia Baru dan Tujuh Keajaiban Alam, organisasi New7Wonders membuat sebuah program baru di tahun 2011, yang bernama New7Wonders Cities. Program ini akan memilih tujuh kota di seluruh penjuru dunia untuk masuk ke dalam daftar tujuh kota yang paling menakjubkan. Tentu saja tidak ada kriteria yang jelas tentang bagaimana suatu kota dikatakan menakjubkan atau tidak. Sistem penentuan pemenang dalam program ini, sama seperti dua program sebelumnya, berdasarkan jumlah suara yang terkumpul selama selang waktu tertentu. Setelah tiga tahun melakukan pemungutan suara secara daring, pada tahun 2014 diumumkan tujuh kota yang terpilih sebagai kota yang paling menakjubkan. Berikut ringkasannya.

1. Beirut, Lebanon

Kota yang terletak di pesisir Laut Tengah ini merupakan ibu kota dan sekaligus kota terbesar di Lebanon. Pada sensus penduduk tahun 2007, penduduk Beirut Raya berjumlah sekitar satu hingga dua juta jiwa. Beirut merupakan salah satu kota tertua di dunia, telah dihuni oleh manusia sejak lima ribu tahun yang lalu. Berbagai bangsa pernah menjadi penguasa kota Beirut, mulai dari bangsa Yunani, Romawi, Arab, Ottoman Turki, dan Prancis. Hal ini membuat Beirut menjadi kota yang kaya akan sejarah dan budaya. Banyak tempat wisata menarik yang bisa dikunjungi di Beirut. Apabila Anda ingin melakukan wisata sejarah dan budaya, banyak museum dan bangunan-bangunan kuno, serta tempat ibadah yang telah berdiri ratusan tahun, yang bisa Anda kunjungi. Museum Nasional Beirut, Masjid Al-Omari, Gereja Ortodoks Yunani St. George, merupakan beberapa dari sekian tempat yang patut dikunjungi. Jika ingin melakukan wisata alam, Anda dapat mengunjungi Pigeon Rock dan pantai-pantai Laut Tengah. Anda ingin berbelanja di Beirut? Banyak mall dan toko-toko modern yang tersebar di penjuru kota, dengan merk-merk mendunia, seperti Gucci dan Montblanc yang menghiasi etalasenya. Namun jika Anda ingin merasakan pengalaman berbelanja yang otentik, silakan mengunjungi pasar tradisional seperti Souk El Tayeb dan Burj Hammoud. Anda juga bisa melakukan wisata kuliner dengan mencoba beberapa makanan khas Lebanon, seperti mezze, manqoushe, hummus, dan falafel.



2. Doha, Qatar

Kota yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 ini merupakan ibukota dan kota terbesar kerajaan Qatar. Doha merupakan kota modern dengan aktivitas urban yang padat. Sama seperti kota-kota di negara teluk lainnya yang mengalami kemajuan pesat dalam beberapa dekade terakhir, Doha juga menjadi salah satu pusat bisnis di Timur Tengah. Meskipun terkesan modern, Anda tetap bisa menemukan beberapa situs bersejarah di kota Doha, seperti Benteng Al-Koof dan Benteng Al-Zubara. JIka ingin berwisata alam, Anda dapat menyewa perahu untuk menyusuri Teluk Doha dan mengunjungi Pulau Al Safliya. Untuk berbelanja, Anda dapat memilih berbelanja di mall-mall modern atau di pasar tradisional yang oleh penduduk lokal disebut souq. Anda bisa menemukan cindera mata khas Timur Tengah di pasar-pasar tersebut. Anda juga bisa menikmati sore hari ala penduduk Timur Tengah dengan menikmati sheesha yang beraneka rasa, sambil mencoba masakan khas Qatar, seperti kabsa dan balaleet. Ingin mencoba makanan internasional? Anda tidak perlu repot-repot pergi ke negara lain, karena di Qatar tersedia hampir segala menu dari seluruh dunia. Mayoritas penduduk Doha adalah ekspatriat dari berbagai negara yang bekerja di sana, sedangkan warga negara Qatar justru menjadi minoritas, namun mereka tetap memegang kendali atas politik dan ekonomi. Hal ini menyebabkan Doha menjadi salah satu kota dengan budaya yang beragam.


3. Durban, Afrika Selatan

Jika Qatar adalah tuan rumah untuk Piala Dunia tahun 2022, maka Afrika Selatan adalah tuan rumah Piala Dunia tahun 2010 silam. Durban adalah salah satu kota tempat diadakannya pesta sepak bola terbesar di dunia ini. Posisi kota Durban yang terletak di pesisir Samudra Hindia, menjadikan Durban memiliki banyak pantai yang indah. Karena letaknya yang strategis dan cuacanya yang bersahabat, Durban menjadi salah satu kota wisata yang paling banyak dikunjungi di Afrika Selatan. Banyak tempat-tempat wisata menarik yang dapat Anda kunjungi di Durban, mulai dari pantai-pantainya yang indah, museum, hiburan malam, hingga taman safari. Berbagai festival budaya juga sering diadakan di Durban, karena penduduk Durban terdiri dari berbagai latar belakang etnis dan agama. Sejarah kelam Afrika Selatan yang diwarnai dengan politik Apartheid, tidak membuat keberagaman budaya di Durban pudar. Justru hal tersebut semakin memperkaya khazanah budaya di kota terbesar ketiga di Afrika Selatan ini. Sama seperti Doha, Anda pun bisa mencicipi berbagai cita rasa internasional di sini, selain kuliner lokal khas Afrika Selatan. Anda juga dapat menemukan makanan melayu, karena banyak warga Durban yang keturunan orang Melayu dan orang Bugis, yang bermigrasi ke Afrika Selatan ketika jaman kolonial dulu.



4. Havana, Kuba

Jika ingin mengalami pengalaman khas Karibia dan Amerika Latin, maka Havana adalah kota yang layak untuk dikunjungi. Ibukota negara Kuba ini didirikan oleh bangsa Spanyol pada abad ke 16, sebagai kota pelabuhan yang menghubungkan Spanyol dengan daerah-daerah lain di benua Amerika. Karena itu, Anda akan menemukan pengaruh budaya Spanyol yang kuat di Havana, terutama pada arsitekturnya. Gaya arsitektur kolonial Spanyol akan banyak Anda jumpai di daerah Old Havana, atau kota tua Havana. Pengaruh budaya Afrika juga sangat kental di Havana. Hal ini dikarenakan banyak penduduk Havana, serta Kuba pada umumnya adalah keturunan budak dari benua Afrika yang dibawa ke benua Amerika pada jaman kolonialisme. Jumlah penduduk keturunan Afrika ini menempati urutan kedua terbanyak setelah warga keturunan Spanyol dan bangsa Eropa lainnya. Selain itu juga terdapat warga keturunan Tiongkok yang bermigrasi ke Havana dan daerah lain di Kuba pada akhir abad 19 dan awal abad 20. Pengaruh budaya Tiongkok ini sangat terasa di daerah Pecinan atau dalam bahasa Spanyol disebut Barrio Chino. Penduduk asli Kuba adalah suku Taino, yang kini sudah sangat jarang ditemui, kalau tidak bisa dikatakan menghilang. Namun beberapa pengaruh budaya Taino masih terasa di Havana, terutama pada beberapa nama tempat. Termasuk asal mula nama Havana sendiri, yang konon katanya berasal dari salah satu kepala suku terkemuka bangsa Taino, Habaguanex. Percampuran budaya yang beragam ini menjadikan budaya khas Kuba yang unik dan menarik. Banyak manifestasi percampuran budaya ini dapat Anda temukan dalam musik, tarian, dan makanan khas Kuba, seperti musik habanera, tari mambo, dan masakan criollo. Semua hal tersebut dapat Anda temukan di Havana.



5. Kuala Lumpur, Malaysia

Bagi warga Indonesia, Kuala Lumpur merupakan kota terdekat yang bisa dikunjungi jika ingin berwisata ke luar negeri, selain Singapura tentunya. Banyak penerbangan langsung yang cukup terjangkau dari beberapa kota besar di Indonesia. Tidak salah jika Anda memutuskan untuk berwisata ke Kuala Lumpur. Banyak hal menarik yang bisa Anda temukan di sana. Mulai dari wisata budaya mengunjungi museum-museum, tempat-tempat peribadatan, seperti Masjid Jamek dan Batu Caves, serta mencoba makanan khas Malaysia seperti roti canai, nasi lemak, dan teh tarik. Sama seperti daerah lain di Malaysia, penduduk Kuala Lumpur merupakan perpaduan dari tiga etnis, Melayu, Tiongkok, dan Tamil. Perpaduan budaya tiga etnik tersebut membuat Malaysia menjadi negara yang kaya akan khazanah budaya sehingga menjadikan slogan "Malaysia Truly Asia" sebagai promosi wisatanya. Untuk berkeliling di Kuala Lumpur pun Anda tidak akan kesulitan, karena berbagai pilihan moda transportasi massal dengan harga yang terjangkau banyak tersedia dan menjangkau hampir ke setiap sudut kota, seperti bus, monorel, dan KRL. Salah satu bangunan yang menjadi ikon kota Kuala Lumpur adalah Gedung Kembar Petronas. Anda bisa masuk ke gedung tersebut dan naik ke salah satu menaranya untuk melihat suasana kota Kuala Lumpur dari atas. Tentu anda harus merogoh kocek yang agak banyak jika ingin melakukannya. Namun Kuala Lumpur sebenarnya adalah kota dengan biaya hidup yang cukup terjangkau jika dibandingkan dengan kota-kota besar lain di dunia. Anda dapat dengan mudah menemukan penginapan yang terjangkau namun dengan kualitas yang memadai, serta makanan murah meriah namun dengan cita rasa yang luar biasa.



6. La Paz, Bolivia

Kota yang terletak di Amerika Selatan ini berada pada ketinggian 3.650 meter di atas permukaan laut, menjadikannya sebagai kota metropolis tertinggi di dunia. Nama lengkapnya adalah Nuestra Senora de La Paz, yang berarti Nyonya Perdamaian Kami. Pengaruh budaya Spanyol sangat kuat di La Paz, karena kedudukannya sebagai kota kolonialisme pada jaman penjajahan Spanyol. Hal ini dapat dilihat pada berbagai peninggalan bangunan kuno yang terdapat di kota tua La Paz. Namun sayangnya jumlah bangunan kolonialisme ini semakin berkurang, akibat meluasnya modernisasi dan mahalnya perawatan bangunan-bangunan tersebut. Meskipun pengaruh budaya Spanyol cukup kuat, mayoritas penduduk La Paz adalah warga keturunan pribumi dari suku Aymara. Bahkan bahasa Aymara merupakan bahasa yang paling banyak digunakan kedua setelah bahasa Spanyol. Budaya Aymara yang semakin tampak di La Paz dan Bolivia ini tidak lepas dari terpilihnya Evo Morales sebagai presiden Bolivia pertama yang berasal dari warga keturunan pribumi. Kini banyak warga keturunan suku Aymara yang dengan bangga menggunakan pakaian khas mereka, terutama para wanitanya, yang oleh penduduk setempat disebut sebagai Chola. Salah satu atraksi menarik yang dapat Anda jumpai di La Paz adalah pertunjukan gulat antara wanita-wanita Chola ini. Dengan menggunakan atribut lengkap khas wanita Aymara, yang berupa kemeja lengan panjang, rok lebar, syal berenda, topi bulat, dan rambut di kepang, para wanita ini menunjukkan aksi yang luar biasa saat bertarung satu sama lain di atas ring. Ada kalanya mereka bertanding melawan laki-laki, namun seperti kata peribahasa bahwa "wanita selalu benar", para Chola inilah yang memenangkan pertandungan, meskipun mereka melawan lelaki yang ukuran badannya dua kali lebih besar dari mereka. Selain itu, Anda juga dapat menaiki moda transportasi masal khas La Paz, yaitu kereta gantung yang hilir mudik di atas ketinggian kota La Paz.


7. Vigan, Filipina

Kota terakhir dalam daftar tujuh kota menakjubkan versi New7Wonders adalah kota Vigan di Filipina. Tidak seperti enam kota lainnya dalam daftar tujuh kota menakjubkan, yang sebagian besar merupakan kota metropolis modern, Vigan merupakan kota dengan cita rasa kolonialisme yang kental dan kehidupannya yang tenang. Hal ini justru yang menjadi keistimewaan kota Vigan. Kota yang berada di bagian utara Pulau Luzon ini merupakan satu di antara beberapa kota di Filipina yang masih mempertahankan arsitektur peninggalan kolonialisme. Jika Anda menginjakkan kaki di kota Vigan, maka Anda seolah melewati mesin waktu menuju abad 19. Pada mulanya, Vigan merupakan pemukiman para saudagar Tiongkok dari Fujian. Mereka menyebut daerah yang mereka diami tersebut dengan istilah Bee Gan, yang berarti Pantai Nan Indah dalam bahasa Hokkien. Ketika bangsa Spanyol datang ke daerah tersebut, mereka mengucapkan Bee Gan sebagai Vigan, dan menjadi nama kota ini hingga sekarang. Perpaduan budaya antara budaya Tiongkok, Spanyol, dan penduduk asli Filipina menjadi budaya baru khas Vigan yang disebut Mestizo. Anda bisa melihat unsur-unsur perpaduan budaya ini di bangunan-bangunan kuno yang masih bertahan hingga sekarang, serta dalam hal cita rasa makanannya. Atraksi wisata yang paling menarik di Vigan tentu saja adalah gaya kota kolonialisme yang masih bertahan hingga sekarang, termasuk di antaranya jalanan kota yang masih menggunakan paving dari batu-batu besar, alih-alih menggunakan aspal seperti kota modern lainnya. Anda bisa menyusuri jalanan kuno tersebut dengan berjalan kaki atau menggunakan kereta kuda. Namun jika Anda ingin menikmati suasana alam, Anda dapat berjalan menyusuri pantai Mindoro yang indah.



Demikian tujuh kota menakjubkan versi New7Wonders berdasarkan hasil polling dari seluruh dunia. Bagaimana dengan kota Anda? Apakah kota Anda juga tidak kalah menakjubkan dengan tujuh kota di atas? Atau mungkin Anda pernah singgah di salah satu dari ketujuh kota tersebut. Silahkan berbagi pengalaman Anda di kolom komentar.

Senin, 30 Mei 2016

Tujuh Keajaiban Alam

Setelah merilis daftar tujuh keajaiban baru, organisasi New7Wonders membuat kampanye baru, yaitu membuat daftar tujuh keajaiban alami. Dilakukan dengan prosedur yang sama, yaitu dengan pemungutan suara melalui internet dan telepon, program ini berjalan dari tahun 2007 hingga 2011, yang diikuti oleh seratus juta pemilih dari seluruh dunia. Berikut adalah tujuh keajaiban alam tersebut.

1. Hutan Hujan dan Sungai Amazon

Hutan hujan Amazon merupakan hutan hujan terbesar di dunia. Hutan ini merupakan salah satu dari tiga hutan yang menjadi paru-paru dunia (dua hutan lainnya adalah hutan hujan di Afrika Tengah dan hutan hujan di pulau Kalimantan). Hutan ini terletak di lembah Amazon, Amerika Selatan, dengan luas meliputi tujuh juta meter per segi. Enam puluh persen dari wilayah tersebut merupakan bagian dari negara Brazil, dan sisanya terbagi ke dalam delapan negara lainnya. Mengalir membelah lembah Amazon dan menjadi sumber kehidupan berbagai makhluk hidup di sana, adalah Sungai Amazon, sungai terbesar di dunia dan terpanjang kedua di dunia. Sungai ini mengalir melalui empat negara, dengan mata airnya berasal dari Pegunungan Andes di Peru dan bermuara di Samudra Atlantik, di pantai Brazil. Selain terdapat berbagai keragaman hayati di dalam hutan hujan Amazon, berbagai suku terasing yang belum pernah melakukan kontak dengan dunia luar juga terdapat di sini. Nama Amazon diberikan oleh para penjelajah pertama dari Eropa yang melihat penduduk asli di sana, terutama para wanitanya, berpenampilan layaknya pejuang Amazon dari mitologi klasik Yunani.

Hutah Hujan dan Sungai Amazon. Sumber gambar : http://www.amazonriverexpert.com/uploads/3/6/3/2/3632729/_142443_orig.jpg  


2. Pulau Jeju

Pulau Jeju atau Jejudo adalah pulau terbesar di semenanjung Korea. Bagi para penggemar drama Korea mungkin sering mendengar nama pulau ini. Pulau Jeju mempunya julukan "Pulau Tanpa Tiga Macam, dan Mempunyai Banyak Tiga Macam". Julukan ini berasal dari reputasi pulau tersebut yang berlimpah dengan tiga hal, yaitu angin, bebatuan, dan wanita, serta fakta bahwa pulau ini tidak memiliki tiga hal berikut, yaitu pengemis, pencuri, dan gerbang yang terkunci. Pulau Jeju merupakan pulau volkanik, yaitu pulau yang terbentuk dari letusan gunung berapi bawah laut. Akibat dari proses ini, pulau Jeju memiliki beberapa fenomena dan keindahan alam yang menarik, seperti Cepuk Lava Manjanggul, Seongsan Ilchulbong atau "Puncak Matahari Terbit", serta Gunung Hallasan.

Pulau Jeju. Sumber gambar : http://dapur-uang.com/wp-content/uploads/job-manager-uploads/main_image/2016/04/jeju1.jpg


3. Teluk Halong

Teluk Halong, yang berarti teluk turunnya sang naga, merupakan tempat wisata paling populer di Vietnam. Pemandangan di Teluk Halong begitu cantik, dengan dihiasi ribuan pulau-pulau kecil dari batu gamping, yang tersebar di penjuru teluk tersebut. Menurut legenda, para dewa mengirimkan sekelompok naga untuk melindungi Vietnam dari serangan bangsa asing. Naga-naga tersebut menyemburkan permata dan giok, yang berubah menjadi ribuan pulau yang tersebar di sepanjang teluk Halong, dan menjadi benteng alami yang melindungi Vietnam dari serangan bangsa asing. Faktanya, pulau-pulau gamping di Teluk Halong terbentuk dari proses geologi dan geomorfologi selama ratusan juta tahun.

Teluk Halong. Sumber gambar : http://halongtourvietnam.org/uploads/ha-long/2014_11/halong-bay-vietnam_1.jpg

4. Air Terjun Iguazu / Iguacu

Air Terjun Iguazu merupakan air terjun yang berasal dari aliran sungai Iguazu, di perbatasan Argentina dan Brazil. Sungai Iguazu lebih banyak mengalir di wilayah Brazil, namun sebagian besar air terjunnya berada di wilayah Argentina. Air Terjun Iguazu membentang sepanjang 2,7 km, dengan tinggi antara 60-82 meter, dan terbagi menjadi beberapa air terjun kecil oleh berbagai pulau kecil yang tersebar di sepanjang air terjun tersebut. Menurut legenda, ada seorang gadis cantik yang hendak dipinang dewa, namun gadis tersebut justru melarikan diri dengan kekasihnya. Sang dewa sangat marah, membelah sungai Iguazu, di mana sang gadis dan kekasihnya sedang melarikan diri dengan menggunakan kano, dan mengubah sepasang kekasih tersebut menjadi air terjun abadi.

Air Terjun Iguazu. Sumber gambar : http://www.foreignpixel.com/wp-content/uploads/galleries/post-2476/full/iguazufalls8.jpg


5. Taman Nasional Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa

Taman Nasional Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa merupakan taman nasional yang berada di Barisan Pegunungan Saint Paul, Pulau Palawan, Filipina. Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa mengalir di bawah pegunungan tersebut, melalui sebuah gua, sebelum akhirnya bermuara di Laut Filipina Barat. Untuk menuju ke sana, pengunjung harus mendaki bukit atau menaiki perahu dari kota Sabang (bukan yang di Aceh). Di dalam gua, pengunjung akan menjumpai pemandangan yang menakjubkan berupa rangkaian stalaktit dan stalagmit, kolam bawah tanah, air terjun bawah tanah, serta berbagai flora dan fauna unik yang telah beradaptasi dengan kondisi gua yang gelap.

Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa. Sumber gambar : http://www.gov.ph/images/uploads/DSC3561.jpg


6. Taman Nasional Pulau Komodo

Setelah sebelumnya, kandidat Indonesia, Candi Borobudur, kalah dalam pemilihan Tujuh Keajaiban Baru, akhirnya satu lagi ikon kebanggaan Indonesia terpilih menjadi salah satu dari tujuh keajaiban alam. Namun sempat terjadi konflik antara kementerian pariwisata Indonesia dengan panitia penyelenggara, di mana Pulau Komodo sempat akan dicoret dari daftar kandidat, setelah Indonesia menolak menjadi tuan rumah pengumuman pemenang dari kegiatan ini. Untunglah hal tersebut tidak terjadi dan Pulau Komodo tetap menjadi salah satu dari tujuh keajaiban alam. Pulau Komodo merupakan salah satu pulau yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan menjadi termasyhur karena menjadi satu-satunya habitat bagi kadal terbesar di dunia, Naga Komodo. Meskipun Naga Komodo merupakan hewan predator yang berbahaya, namun kehadiran hewan ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Warga setempat malah sudah hidup berdampingan dengan kadal raksasa ini selama ratusan tahun. Selain Naga Komodo, daya tarik lainnya dari Pulau Komodo adalah Pantai Pink, yang merupakan satu dari tujuh pantai di dunia dengan pasir berwarna merah muda.

Pulau Komodo. Sumber gambar : http://www.remotelands.com/images/citys/130127007.jpg

7. Taman Nasional Table Mountain

Table Mountain atau Gunung Meja merupakan gunung dengan puncak datar, yang menjadi ikon landmark kota Cape Town, Afrika Selatan. Puncak datar dari gunung tersebut, seringkali tertutup oleh awan orografik, dan dijuluki sebagai taplak awan. Menurut legenda, fenomena tersebut terjadi karena adanya kompetisi merokok antara iblis dan seorang bajak laut bernama Van Hunks. Apabila tapak awan muncul, maka kompetisi tersebut sedang berlangsung. Table Mountain menjadi satu-satunya fenomena bumi yang memberikan namanya untuk konstelasi bintang, Mensa, yang berarti Meja. Konstelasi tersebut terlihat dari belahan bumi selatan, di bawah Orion, setiap tengah malam di pertengahan Juli. Nama tersebut diberikan oleh seorang astronomer Prancis bernama Nicolas de Lacaille, ketika ia sedang singgah di Cape Town pada pertengahan abad 18.


Table Mountain. Sumber gambar : https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/65/BRENDON_WAINWRIGHT_-_Table_Mountain_1.jpg

Jadi itu tadi adalah daftar tujuh keajaiban alam yang disusun oleh organisasi New7Wonders berdasarkan pilihan dari penduduk dunia. Bila sedang berkeliling dunia, jangan lupa singgah ke sana. Apabila belum bisa keliling dunia, paling tidak kita bisa ke salah satu keajaiban tersebut, yang letaknya masih di wilayah negara kita, yaitu Pulau Komodo. Selamat melancong.

Minggu, 29 Mei 2016

Tujuh Keajaiban Dunia Baru

Pada tahun 2007, organisasi New7Wonders membuat suatu terobosan untuk memilih tujuh keajaiban dunia yang baru, mengingat tujuh keajaiban dari era kuno, yang disusun oleh Herodotus dan Callimachus, sebagian besar telah hancur, hanya tersisa Piramid Agung di Giza, Mesir. Untuk mengetahui tentang tujuh keajaiban dari era kuno, bisa dilihat di sini.

Untuk menentukan tujuh keajaiban yang baru, organisasi New7Wonders melakukan pemungutan suara melalui telepon dan internet. Pemungutan suara dilakukan selama tujuh tahun, dari tahun 2000 hingga 2007, dan diikuti oleh seratus juta pemilih dari seluruh dunia. Ada dua ratus monumen yang menjadi nominasi, hingga akhirnya terpilihlah tujuh keajaiban dunia yang baru. Mari kita lihat satu per satu.

1. Tembok Besar Tiongkok

Dibangun pada tahun 700 SM, bangunan ini dimaksudkan sebagai benteng pertahanan kekaisaran Tiongkok terhadap serangan dari bangsa-bangsa di utara negeri tersebut. Tembok Besar Tiongkok tidak dibangun dalam satu masa, melainkan terjadi penambahan dan renovasi di tiap dinasti dan pemerintahan hingga mencapai ukuran yang sekarang ini, yaitu terentang sepanjang 21.196 km. Namun, kisah pembangunan tembok ini yang paling termasyhur adalah pada masa Kaisar Qin Shi Huang, di mana beliau memerintahkan pembangunan tembok ini secara besar-besaran, hingga memakan ratusan hingga ribuan korban jiwa para pekerja selama proses pembangunannya.



2. Petra

Petra, yang berarti batu dalam bahasa Yunani, merupakan kota kuno yang terletak di Jordania. Petra merupakan kota yang unik, karena gedung dan bangunan di dalamnya tidak dibangun layaknya kota-kota lain, namun dipahat pada tebing batu yang mengelilingi kota tersebut. Pada masa kejayaannya, Petra merupakan ibukota bangsa Nabatea, sebuah bangsa kuno di Jazirah Arab, serta menjadi pusat perdagangan. Letaknya yang strategis, membuat Petra menjadi tempat persinggahan para saudagar yang hendak menuju Gaza, Damaskus, Laut Merah, serta Teluk Persia. Dibangun pertama kali pada tahun 312 SM, sebagian besar bangunan di Petra masih bertahan, meskipun ada beberapa yang rusak dimakan waktu serta akibat ulah para penjarah. Kini, Petra adalah kota kuno tak berpenghuni, namun tetap banyak pengunjung yang datang ke sana. Bukan lagi para saudagar, namun para wisatawan.



3. Colosseum

Colosseum di kota Roma, Itali, merupakan bangunan amphitheater terbesar dalam sejarah manusia. Selesai dibangun pada tahun 80 SM, di era kekaisaran Romawi, Colosseum diperuntukkan sebagai tempat menampilkan acara-acara publik, seperti pertarungan gladiator, perburuan binatang liar, eksekusi, pemeragaan ulang pertempuran bersejarah, dan pementasan drama dari mitologi klasik. Pada awalnya bangunan ini bernama Amphitheater Flavian, karena dibangun oleh kaisar-kaisar dari dinasti Flavian. Nama Colosseum berasal dari sebuah patung raksasa yang terletak di dekat amphitheater tersebut. Dalam bahasa Latin, patung raksasa disebut colossus. Patung raksasa ini sendiri terinspirasi dari salah satu keajaiban dunia kuno yang kini sudah hancur, yaitu Colossus dari Rhodes.



4. Chichen Itza

Chichen Itza, yang berarti "di bibir sumur bangsa Itza" dalam bahasa Yukatek Maya, merupakan situs arkeologi yang terletak di Yukatan, Meksiko. Situs ini dulunya merupakan kota bangsa Maya pada periode Klasik Akhir. Salah satu bangunan yang paling terkenal di kota tersebut adalah piramid El Castillo, Dalam bahasa Spanyol, nama tersebut berarti kastil, namun fungsi sesungguhnya bangunan tersebut adalah sebagai kuil pemujaan Dewa Kukulkan. Bangsa Maya terkenal akan keahlian dalam bidang astronomi dan arsitektur, dan ilmu ini mereka terapkan pada pembangunan piramid El Castillo. Pada saat titik balik matahari, atau equinox, di musim semi dan musim gugur, bayangan yang ditimbulkan dari sinar mentari, seolah menjadi badan ular yang menggelincir turun dari puncak piramid, menuju dasar, di mana terdapat patung kepala ular. Pada tanggal 20 Desember 2012, situs ini menjadi salah satu pusat perayaan pergantian tahun panjang bangsa Maya, yang terjadi tiap 394 tahun, atau disebut baktun. Bagi beberapa orang, tanggal tersebut dipercaya sebagai hari terjadinya kiamat, padahal yang sebenarnya bagi bangsa Maya tanggal tersebut adalah berakhirnya suatu masa dan awal dimulainya masa yang baru.



5. Machu Picchu

Pada awal abad 20, seorang sejarahwan asal Amerika Serikat, Hiram Bingham, tidak sengaja menemukan situs kuno peninggalan bangsa Inka ini. Machu Picchu terletak di atas sebuah bukit, di ketinggian 2.430 meter di atas permukaan laut. Pada saat ditemukan kembali oleh Hiram Bingham, situs ini tertutup oleh lebatnya tanaman hutan namun sebagian besar bangunannya masih bertahan. Dibangun pada tahun 1450 M, kota ini dibangun oleh Kekaisaran Inka sebagai tempat peristirahan keluarga kekaisaran. Karena letaknya yang cukup tersembunyi, bangunan-bangunan di Machu Picchu selamat dari kehancuran oleh penjajahan bangsa Spanyol yang menghancurkan sebagian besar bangunan bangsa Inka karena dianggap sebagai bagian dari kepercayaan pagan. Namun Machu Picchu akhirnya ditinggal oleh penduduknya karena sebagian besar meninggal akibat penyakit yang dibawa bangsa Eropa. Situs ini terletak tidak jauh dari Cuzco, ibukota kuno bangsa Inka yang tetap bertahan hingga masa kini, meskipun telah beralih fungsi menjadi ibukota provinsi di Peru.



6. Taj Mahal

Bagi yang suka menonton film India, mungkin sudah tidak asing lagi dengan bangunan ini. Taj Mahal terletak di kota Agra, India. Dibangun pada tahun 1632, bangunan ini diperuntukkan sebagai mausoleum atau makam bagi Mumtaz Mahal, permaisuri dari kaisar Mughal, Shah Jahan. Bangunan yang sekilas tampak seperti masjid ini, dibangun dari bahan marmer putih, dan menunjukkan efek visual yang cantik apabila terkena cahaya matahari atau bulan. Shah Jahan begitu mencintai istrinya hingga ia membangun sebuah rumah yang cantik untuk peristirahatan istrinya. Taj Mahal merupakan monumen lambang cinta sejati.



7. Kristus Sang Penebus

Dibandingkan dengan enam monumen lain dalam tujuh keajaiban baru, Patung Kristus Sang Penebus merupakan monumen yang termuda, yaitu dibangun pada tahun 1931. Patung ini berdiri di atas bukit Corcovado, menghadap ke kota Rio de Janeiro, dengan tinggi mencapai 30 meter, dan tangannya yang terentang sepanjang 28 meter. Patung ini menjadi ikon kota Rio de Janeiro dan Brazil, serta menjadi simbol agama Kristen di seluruh dunia. Beberapa monumen telah didirikan di berbagai belahan dunia, yang terinspirasi dari patung raksasa Kristus ini, namun tidak ada yang menyerupai kemasyhurannya.



Trivia

Mesir sempat mengajukan protes kepada organisasi New7Wonders, karena Piramid Agung di Giza, sebagai satu-satunya keajaiban dunia kuno yang bertahan hingga masa modern, tidak dimasukkan ke dalam daftar tujuh keajaiban dunia yang baru. Namun daftar tersebut berdasarkan pemungutan suara dan hasilnya sudah diumumkan ke seluruh dunia, sehingga panitia tidak dapat meralatnya. Akhirnya organisasi New7Wonders memberikan status kehormatan terhadap Piramid Agung Giza sebagai satu-satunya monumen dari tujuh keajaiban dunia kuno yang masih bertahan hingga kini.

Candi Borobudur di Indonesia, sebagai candi Budha terbesar di Asia Tenggara, termasuk ke dalam salah satu dari dua ratus monumen yang dinominasikan saat dimulainya pemungutan suara. Namun sayangnya, Candi Borobudur tidak lolos seleksi ke tahap selanjutnya dikarenakan kurangnya suara yang diberikan untuk mendukungnya menjadi salah satu keajaiban dunia yang baru.

Nah, itu tadi beberapa fakta tentang tujuh keajaiban dunia yang baru. Monumen-monumen di atas, sangat layak untuk dikunjungi. Jadi apabila Anda berkesempatan untuk berkeliling dunia, jangan lupa berkunjung ke sana. Selamat melancong.

Minggu, 24 April 2016

Kopi Luwak Bali

Dalam film The Bucket List, karakter yang diperankan Jack Nicholson membaca sebuah surat dari sahabatnya, yang diperankan Morgan Freeman, menyatakan bahwa kopi luwak merupakan kopi termahal di dunia. Saya tidak tahu apakah memang betul-betul paling mahal sedunia atau tidak, tapi yang jelas kopi luwak ini termasuk mahal untuk ukuran dompet saya.



Pertama kali saya mencicipi kopi luwak, yaitu sekitar enam tahun yang lalu di sebuah cafe di Tunjungan Plaza. Cafe ini masih satu grup dengan PTPN, jadi bahan-bahan yang digunakan merupakan produk dari PTPN sendiri. Pelayannya mengatakan kepada kami bahwa kopi luwak di cafe tersebut cukup terkenal di antara pelancong luar negeri yang datang ke Surabaya. Pernah suatu waktu ada kapal AL dari Negeri Paman Sam yang merapat ke Tanjung Perak, dan para awaknya memborong kopi luwak. Padahal waktu itu harga satu cangkir kopi luwak adalah Rp. 100.000,-.

Apa yang membuat kopi luwak begitu mahal? Selain karena kualitas rasa dan aroma, proses pembuatannya juga terbilang cukup rumit. Berikut informasi yang saya dapat dari wikipedia :

"Early production began when beans were gathered in the wild from where a civet would defecate as a means to mark its territory. On farms, civets are either caged or allowed to roam within defined boundaries.

Coffee berries are eaten by a civet for their fruit pulp. After spending about a day and a half in the civet's digestive tract the beans are then defecated in clumps, having kept their shape and still covered with some of the fleshy berry's inner layers.

Despite being in contact with faeces and pathogenic organisms, the beans contain negligible amounts of the enteric (pathogenic) organisms associated with feces. Moreover, the "cherry" or endocarp surrounding the bean is not completely digested by the luwak, and after being collected, the farmer performs thorough washing and removes the endocarp. The final roasting of the beans would, additionally, eliminate any remaining bacteria."

Jadi pada intinya biji kopi yang selanjutnya akan diolah menjadi minuman ini, harus dimakan dan dicerna terlebih dulu oleh luwak untuk kemudian dikeluarkan bersama dengan fesesnya. Biji-biji hasil pencernaan tersebut kemudian dicuci dan dikupas kulit arinya. Setelah itu biji-biji tersebut disangrai untuk melenyapkan bakteri yang tersisa. Setelah itu biji kopi bisa digiling menjadi bubuk kopi yang siap minum.

Biji kopi luwak sebelum diproses lebih lanjut. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kopi_luwak

Saya pernah mencoba proses pencucian dan pengelupasan kulit ari biji kopi luwak. Ternyata memang tidak mudah. Jadi tidak heran kalau harga jual kopi luwak dibandrol cukup tinggi.

Perlu saya perjelas bahwa kopi luwak yang saya maksud di sini adalah kopi luwak asli yang mengalami proses seperti disebutkan di atas, bukan kopi luwak yang menjadi merek beberapa minuman kopi instan yang akhir-akhir banyak terdapat di pasaran. Anda bisa saja berpendapat bahwa kopi luwak itu murah, karena bisa didapat di mana sana, mulai dari toko kelontong di kampung sampai minimarket, dengan harga yang miring sekali. Dengan sangat menyesal saya katakan bahwa yang anda maksud itu bukan kopi luwak sebenarnya, tapi hanya mereknya saja. Isinya? Hanya kopi susu instan biasa yang sering kita jumpai pada merek-merek lain.

Ini dia si luwak. Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Kopi_Luwak

Lalu di mana kalau ingin mencoba kopi luwak yang asli? Anda bisa mencoba di Cafe Rolas, cafe yang saya ceritakan di atas. Atau kalau anda ingin yang otentik, anda bisa mencobanya langsung di beberapa tempat di Indonesia yang memang terkenal sebagai penghasil kopi luwak. Salah satunya adalah Bali, dan lebih tepatnya di daerah Ubud.

Kalau anda pergi ke Ubud, anda pasti akan menemukan cafe ataupun warung kopi yang menawarkan kopi luwak. Kopi luwak yang ditawarkan di sini tentunya kopi luwak asli, bukan merek kopi luwak instan. Anda bisa tahu dari aroma dan rasanya yang khas dan sangat nikmat. Tidak terlalu pahit namun sangat pas di lidah. Jack Nicholson dan Morgan Freeman saja mengakuinya di film The Bucket List.

Saya sebenarnya bukan penggemar fanatik kopi. Saya minum kopi kalau kondisi darurat saja, misalnya tiba-tiba mengantuk saat lagi menyetir, atau harus terjaga saat berada di meeting yang membosankan (yang ini rahasia ya hehe). Saya tidak terbiasa minum kopi saat pagi hari seperti orang kebanyakan. Kenapa begitu? Asam lambung saya termasuk berlebih, sehingga kalau habis minum kopi pasti akan mual, meskipun minumnya setelah makan. Dan itu berlaku pada hampir semua kopi, mau itu kopi susu, kopi putih, terlebih kopi hitam. Namun anehnya, gejala mual pasca minum kopi tidak saya alami ketika minum kopi luwak.

Karena dampaknya yang tidak biasa bagi tubuh saya ini, kemarin saya sempat membeli satu kantong kecil bubuk kopi luwak sebagai oleh-oleh dari Bali. Satu kantong berisi 50 gram kopi seharga Rp. 50.000,-. Cukup mahal kalau dibandingkan dengan kopi-kopi lain yang biasa kita beli. Namun untuk kualitas, harga tersebut bagi saya relatif murah.


Kemasan Kopi Luwak Bali tampak depan. Sumber: koleksi pribadi
Kemasan Kopi Luwak Bali tampak belakang. Diproduksi oleh Mangsi Coffee. Sumber: koleksi pribadi





Selain kopi luwak, saya juga sempat membeli satu bungkus kopi rempah khas Bali. Saya akan mengulasnya pada catatan selanjutnya. Dan kalau anda ingin membaca tentang luwak yang menghasilkan kopi ini, silahkan anda baca di catatan saya sebelumnya.

Sampai jumpa dan selamat menikmati kopi anda hari ini.

Selasa, 08 Juni 2010

Baluran: Eksotisme Afrika di Ujung Timur Pulau Jawa



Hidup dan tinggal di kota besar yang penuh hiruk pikuk kadang bisa menimbulkan kejenuhan yang amat sangat. Bila sudah muncul kondisi seperti ini, berarti tanda bagi saya untuk berlibur sejenak ke luar kota. Maka, ketika melihat kalender dan di situ tertera angka berwarna merah di hari Jumat, saya tidak menyia-nyiakan waktu. Karena waktunya cuma tiga hari dan saya belum bisa mengambil cuti (maklum, masih berstatus freshman di tempat kerja), maka saya memutuskan untuk berlibur di daerah Jawa Timur saja. Dari hasil googling di internet saya menemukan sebuah tempat bernama Taman Nasional Baluran. Saya pernah mendengar tentang tempat tersebut tapi masih belum banyak tahu. Ketika saya menanyakan ke teman-teman saya pun mereka juga tidak banyak yang tahu. Taman Nasional ini terletak di ujung timur pulau Jawa, tepatnya di perbatasan Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi. Kalau melakukan perjalanan darat ke Pulau Bali pasti akan melewati tempat ini.
Dulu ketika masih kecil, saya pergi ke Bali bersama keluarga naik mobil. Dalam perjalanan, kami melewati sebuah hutan yang menurut saya terlihat sangat unik. Hutan dengan pepohonan yang meranggas dan sebuah gunung besar sebagai latar belakang. Pemandangan yang unik dan mistis. Imajinasi anak kecil saya langsung muncul. Jangan-jangan ada nenek sihir yang tinggal di situ. Saya bertanya ke ayah saya, hutan apakah ini? Kata ayah saya itu adalah hutan Baluran, suaka margasatwa bagi banteng, salah satu hewan langka di Indonesia. Itulah pertama kalinya saya mengetahui tentang Baluran. Sekian tahun berlalu dan saya sudah melupakan tentang hutan tersebut. Kemudian, sebulan yang lalu tanpa sengaja saya menemukan sebuah situs yang mengulas tentang Taman Nasional Baluran. Dikatakan bahwa tempat tersebut seakan Afrikanya Pulau Jawa. Dari foto-foto yang ditampilkan memang benar juga sih. Savana dengan rumput yang menguning dan gunung besar yang bertengger di belakangnya, dengan sekawanan hewan memamah biak yang sedang merumput. Benar-benar seperti Afrika (meskipun saya sendiri juga belum pernah melihat Afrika secara langsung). Hal ini membuat saya semakin penasaran dengan Baluran. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi berlibur ke sana.

Perjalanan Panjang
Berdasarkan informasi dari internet, taman nasional Baluran cukup mudah dijangkau, baik dengan kendaran pribadi maupun angkutan umum. Karena tidak memungkinkan untuk menggunakan kendaraan pribadi, maka saya memutuskan untuk pergi naik bus. Bersama dengan seorang teman, berangkatlah kami menuju rimba Baluran. Teman saya yang hobi fotografi sudah membawa perlengkapan penuh untuk “memburu” kehidupan liar di sana.
Dari Surabaya kami naik bus jurusan Probolinggo, dan di Probolinggo kami ganti bus yang menuju ke Situbondo. Bus yang kami tumpangi cukup istimewa, karena sangat full-music. Lagu-lagu yang disajikan pun cukup unik dengan variasi suara mulai dari yang sangat merdu seperti Iwan Falls hingga yang benar-benar falls. Ada pengamen yang menyanyikan lagu-lagu populer, mulai dari tembang kenangan hingga yang paling baru, dengan suara yang sangat merdu. Hebatnya lagi, mereka mampu memberikan karakter mereka pada lagu tersebut (meminjam istilah dari para juri talent show). Ada pula yang menyanyikan lagu karangan sendiri. Meskipun terdengar asing, tapi cukup bisa membuat kaki saya ikut menghentak. Ada juga yang sangat unik. Pengamen ini suaranya sangat pas-pasan, bahkan cenderung dipaksakan, sudah begitu lagunya juga sangat aneh. Entah kenapa dia tidak menyanyikan lagu populer saja dan lebih memilih lagu tersebut. Bahasa yang digunakannya entah bahasa apa, dan kedengarannya lebih seperti orang merintih daripada sebuah nyanyian. Tapi, kehadirannya cukup membuat kami terhibur, kami tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. Paling tidak, para musisi jalanan tersebut membuat perjalanan delapan jam ini menjadi lebih berirama.
Selain sarana transportasi yang full musik, kami juga disuguhi pemandangan indah khas pedesaan pantai selama perjalanan. Saya sudah lama tidak pergi ke daerah timur. Banyak perubahan yang terjadi, tapi ada juga hal-hal yang tampaknya masih sama dengan beberapa tahun lalu ketika saya terakhir kali ke sana. Perbedaan antara kota-kota ini dengan kota tempat saya tinggal terasa cukup mencolok. Beberapa tahun lalu, keadaannya tidaklah terlalu berbeda, namun sekarang baru saya menyadari bahwa pembangunan yang pesat terjadi pada kota tempat saya tinggal. Pantas saja, suasananya semakin hari semakin terasa sesak.

Gerbang Batangan
Awalnya, kami mengira perjalanan ini akan menempuh waktu lima jam. Karena itu, kami usahakan untuk berangkat pagi-pagi, supaya sampai di Baluran tidak terlalu siang dan masih bisa Sholat Jumat. Ternyata, perkiraan kami salah, waktu tempuhnya hampir delapan jam, karena bus terakhir yang kami tumpangi melaju amat lambat dan sering berhenti untuk mengangkut penumpang.
Lewat tengah hari kami baru menginggalkan kota Situbondo, menuju ke daerah perbatasan. Melalui daerah Karangtekok, Situbondo kami melihat sebuah plang yang besar bertuliskan “Anda memasuki kawasan Taman Nasional Baluran”, dan di depan kami terhampar hutan yang sangat hijau. Suasananya berbeda dengan ketika saya pertama kali melihatnya dulu. Jalan raya yang melalui hutan ini sangat panjang. Entah sudah berapa kilometer yang kami tempuh sejak dari Karangtekok tadi. Kata kernet bus, nanti kami turun di daerah Batangan kalau mau masuk ke Baluran. Saya kira, nantinya kami akan turun di tengah hutan, karena melihat areal hutan yang begitu luas dan tidak habis-habis. Wah, pasti akan cukup ngeri kalau pulang malam-malam dan harus menunggu bus dahulu. Ternyata dugaan saya salah. Batangan merupakan daerah yang ramai. Di situ ada pemukiman penduduk, kantor polisi, dan kantor kehutanan. Di sanalah berdiri pintu gerbang Taman Nasional Baluran. Sarana transportasi untuk kembali ke Surabaya pun ternyata tidak susah. Bus kota maupun antar kota selalu lewat di depan situ, karena lokasinya tidak jauh dari Pelabuhan Ketapang.
Begitu turun dari bus, kami langsung menuju pos penjaga. Petugasnya cukup ramah ketika melayani kami. Tiket masuknya cukup murah, hanya Rp. 2.500,- per orang sekali masuk, dan kalau bawa mobil menambah uang masuk Rp. 6.000,- per mobil. Justru yang mahal adalah sewa ojek, kalau anda tidak membawa kendaraan sendiri, yaitu seharga Rp. 30.000,- sekali berangkat untuk setiap ojek. Tidak mungkin kami berjalan karena jarak antara gerbang dengan Bekol, tempat kami menginap, adalah 12 km. Karena kami tidak bawa kendaraan sendiri, mau tidak mau kami harus menyewa ojek. Yang lebih menyusahkan, kami tidak melihat satupun tukang ojek di situ. Berdasar saran dari petugas, saya mencari ojek di kampung terdekat. Setelah tanya sana-sini, barulah saya mendapatkan dua orang tukang ojek. Ternyata berdasar infromasi penduduk setempat, kalau mencari ojek di sekitar situ siang-siang begini memang susah, yang banyak malah delman. Kalau malam malah justru banyak ojek. Aneh juga pikir saya.
Setelah masalah transportasi beres, masuklah kami ke hutan Baluran. Udara hutan nan sejuk langsung menerpa saya. Sudah lama saya tidak merasakan udara sesejuk ini. Meskipun siang itu suasanya cukup panas, sinar matahari tidak begitu menyengat di dalam hutan ini. Di dalam kami disuguhi pemandangan pohon-pohon hijau yang sangat lebat dan burung perkutut liar yang beterbangan ke sana kemari. Tampaknya area ini baru saja diguyur hujan karena tampak beberapa kubangan air di sepanjang jalan. Hampir di setiap kubangan tersebut, ada sekumpulan kupu-kupu putih yang hinggap untuk minum. Ketika motor kami melewatinya, kumpulan kupu-kupu itu terbang memecah mengitari kami. Pemandangan yang cukup ajaib. Puluhan kupu-kupu putih melayang indah di sekitar saya, seperti sekawanan peri hutan dalam cerita-cerita dongeng. Pemandangan ini tidak sekali terjadi, di sepanjang perjalanan kami menemui sekumpulan kupu-kupu putih yang terbang menari setiap ada kendaraan melewati mereka.

Savannah Bekol
Setelah menempuh jarak 12 km, sampailah kami di savannah bekol. Pemandangan savannah tersebut juga tidak kalah menariknya. Hamparan padang rumput yang menguning menyambut kami. Ungkapan suara rumput yang bergoyang, benar-benar saya dengar di sini. Pemandangan ini benar-benar seperti yang saya lihat di foto, namun tak ada satupun hewan memamah biak yang sedang merumput. Ternyata, kata tukang ojek yang membonceng saya, hewan-hewan tersebut berkumpul di savannah ketika musim kemarau, di mana air dan makanan sudah susah ditemukan di hutan. Kalau masih musim hujan seperti sekarang, mereka lebih banyak bersembunyi di dalam hutan karena air dan makanan masih melimpah ruah. Kalaupun ada, biasanya hanya beberapa jenis unggas liar, seperti ayam hutan. Benar saja, saya melihat beberapa ekor ayam hutan yang melintas di antara rerumputan. Mereka bahkan bisa terbang.
Penginapan kami terletak persis di depan savannah. Dari informasi di internet tempat ini tidak banyak dikunjungi wisatawan. Bahkan petugas di pos gerbang pun juga mengatakan demikian. Jadi saya tidak melakukan reservasi sebelumnya. Saat masih di bus, teman saya bertanya, apa tidak reservasi dulu. Saya bilang tenang saja, pasti akan dapat kamar. Ketika kami memesan kamar, petugasnya bilang kalau semua kamar sudah habis, baik yang di Bekol maupun di Bama. Wah, rasanya seperti tersambar petir di siang bolong. Alamat tidur di luar bersama hewan hutan nih. Padahal, kami tidak siap peralatan camping sama sekali.
Rupanya waktu itu sedang banyak pengunjung. Selain karena memang lagi long weekend, adanya event birdwatch yang akan diadakan pada bulan Juli turut berperan serta membuat kami tidak mendapatkan kamar. Para “pemburu burung” sedang mencari obyek bidikan yang tepat untuk diikutkan dalam lomba fotografi tersebut. Selain itu juga sedang ada sekelompok peneliti dan sekelompok mahasiswa yang sedang melakukan penelitian. Untungnya petugas taman nasional masih berbaik hati dan memberi kami ruang untuk tidur. Ruangannya lebih luas dari kamar yang disewakan. Sayangnya, tidak ada tempat tidur. Sebagai gantinya adalah selembar tikar. Yah, namanya juga ruang aula, mana ada tempat tidurnya. Tapi kami tidak sendiri. Ada sepasang turis dari Belanda yang juga tidak kebagian kamar dan akhirnya diinapkan di kamar petugas. Yah, paling tidak mereka masih bisa tidur di kasur.
Ada dua keuntungan yang kami dapat karena tidak mendapatkan kamar. Pertama, kami bisa menghemat anggaran. Kami tidak harus membayar ongkos penginapan tapi tetap bisa tidur dengan nyaman. Daripada kami tidur di hutan, atau di mushola yang penuh bau kencing musang, lebih baik kami tidur di aula meskipun beralas tikar. Kedua, kami tetap bisa makan nasi. Awalnya kami sudah siap-siap untuk tidak makan nasi selama dua hari, karena pihak Baluran tidak menyediakan makanan kalau sedang sepi pengnjung. Akhirnya kami membawa makanan sendiri tapi yang cukup praktis dan bisa mengenyangkan, yaitu roti. Selama perjalanan di bus pun kami membeli nasi bungkus untuk persediaan terakhir. Dasar orang Indonesia, menganggap belum makan kalau tidak makan nasi, sehingga kebingungan kalau tidak makan nasi walaupun hanya dua hari. Tapi dugaan kami salah. Karena pengunjung banyak, petugas pun menyiapkan nasi dan masakan.
Setelah melepas lelah sebentar, kami lanjutkan menjelajah savannah. Suasananya benar-benar seperti di Afrika. Teman saya berhasil mendapat beberapa objek yang cukup bagus. Puas menjelajah savannah, kami naik ke menara pengawas. Tempatnya cukup tinggi untuk membuat kami ngos-ngosan. Setelah sampai di atas, kelelahan kami terbayar. Pemandangan yang sangat indah terhampar di depan kami. Dari sini, seluruh area Bekol bisa terlihat. Kami bahkan bisa melihat selat Bali. Waktu itu matahari sudah hampir terbenam. Langit berubah warna menjadi ungu dan jingga. Angin darat berhembus menuju laut, menghembuskan udara yang sangat sejuk. Suasana yang hening membuat saya bisa mendengar suara-suara makhluk hutan. Bahkan angin pun seolah-olah bersuara. Ayam hutan berkokok bersahut-sahutan dan di atas sana elang memekik sambil melayang menuju sarangnya.

Pantai Bama
Kami berencana untuk pergi ke pantai Bama pagi-pagi buta supaya bisa melihat sunrise. Panta Bama tepat menghadap ke timur sehingga merupakan lokasi yang tepat untuk melihat matahari terbit. Kami bahkan tidur lebih awal supaya bisa bangun pagi-pagi. Rencana untuk night safari pun kami batalkan (padahal karena kami lupa bawa senter). Akan tetapi, rencana kami hancur seketika karena kami bangun kesiangan. Kami baru bangun pukul lima dan buru-buru sholat Shubuh. Selesai sholat kami segera bersiap-siap. Namun apa daya, sinar mentari sudah masuk menerobos jendela. Akhirnya kami berlari menuju menara pengawas, daripada tidak melihat sunrise sama sekali. Begitu sampai di atas, kecewalah kami karena ternyata mentari pagi tertutup oleh awan kelabu. Mungkin belum rejeki kami untuk melihat matahari terbit di langit Baluran.
Akhirnya kami tetap pergi ke pantai Bama, meskipun melenceng dari waktu semula. Jarak Bekol-Bama hanya 3 km dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Kata petugasnya paling hanya 45 menit kalau jalan kaki. Karena tidak membawa kendaraaan, kami tidak punya pilihan lain. Akibat jarang olahraga, baru melangkah sedikit saja kaki sudah terasa capek. Untungnya pemandangan yang kami lalui sangat indah sehingga capek pun tidak terasa. Rute menuju pantai Bama melewati hutan yang cukup lebat. Tapi hutan ini cukup aman, sehingga tidak perlu takut bertemu predator di tengah jalan. Kata petugas dan tukang ojek kemarin, hewan-hewan itu juga takut kepada manusia. Jadi kalau ada orang melintas, alih-alih menerkam, mereka malah sembunyi atau lari. Benar saja, di jalan, kami bertemu sekawanan rusa liar. Mereka berlari menjauh begitu melihat kami.
Baru kali ini saya melihat langsung sekawanan rusa liar begitu dekat. Sebelumnya saya memang sudah pernah melihat jenis mereka di kebun binatang atau taman safari, namun tetap saja rasanya begitu berbeda ketika bisa melihat mereka secara langsung di habitat asli mereka. Mereka mengeluarkan suara-suara lolongan bersahut-sahutan memanggil anggota kawanan yang lain. Sungguh menajubkan.
Binatang lain yang kami temui selama perjalanan menuju pantai Bama adalah burung merak. Dari dulu saya penasaran, apakah merak bisa terbang. Saya pernah melihat foto di internet tentang merak yang sedang terbang, Saya kira itu adalah foto rekayasa, karena tidak mungkin merak bisa terbang. Akan tetapi dugaan saya salah, merak memang benar-benar bisa terbang. Sungguh ajaib melihat pemandangan ini. Ukuran tubuh yang cukup besar, dengan leher panjang dan ekor besar menggelantung, seekor merak jantan terbang melintas di depan kami. Kami terpukau melihat pemandangan tersebut. Inilah menariknya melihat kehidupan liar dari dekat dan secara langsung. Anda tidak akan bisa menemui pemandangan seperti ini di kebun binatang atau taman safari.
Setelah menempuh jalan yang cukup panjang, sampailah kami di pantai Bama. Pantai yang putih dengan air laut biru jernih, benar-benar mengobati rasa capek kami. Meskipun di sana terdapat beberapa penginapan yang sudah terisi penuh, suasana pantai benar-benar terasa sepi. Di sana saya hanya melihat seorang petugas, dua orang sopir bus yang mengantar sekelompok mahasiswa, serta empat orang pengunjung lain. Begitu sampai di bama, kami langsung disambut oleh tuan rumah, sekewanan kera ekor panjang, atau biasa disebut macaca. Kera-kera itu tahu kalau kami membawa makanan, dan meeka berusaha merebutnya. Mereka sangat mirip dengan kera-kera yang ada di Besakih, bali. Kalau tidak hati-hati, barang bawaan anda bisa dicuri mereka. Di Bekol kami juga bertemu beberapa kera, namun mereka tidak seliar kerabatnya yang ada di Bama. Akhirnya kami mengamankan barang-barang bawaan kami di sebuah kamar yang dipinjamkan oleh petugas. Ternyata di Bama masih ada satu kamar kosong yang seharusnya bisa kami sewa, padahal kata petugas di Bekol semua kamar di Bama juga sudah habis.
Selesai mengisi perut, kami melanjutkan petualangan kami. Kami menyewa kayak dan peralatan snorkeling. Untuk menuju ke tempat snorkeling kami harus mendayung kayak ke arah utara pantai. Jaraknya cukup jauh juga, cukup jauh untuk membuat lengan saya capek. Kalau saya melakukan ini tiap hari, mungkin lengan saya bisa jadi kekar. Setelah bercapek-capek, berbasah-basah, dan berpanas-panas, sampailah kami di area terumbu karang. Kata petugas tadi, penandanya adalah sebuah pelampung merah. Benar saja, kami melihat banyak terumbu karang di bawah kami. Namun kami sekarang bingung, kalau kami menyelam, kayak kami harus ditambatkan di mana? Teman saya menyarankan untuk menyelam sambil memegang kayak. Saya kurang setuju karena tampaknya terlalu susah dan beresiko. Tak jauh dari situ, kami melihat sebuah pantai. Saya menyarankan untuk menepi dulu dan memarkir kayak di sana, kemudian berenang menuju area terumbu karang.
Sesampai di pantai, kami mendapatkan pemandangan yang tidak kalah serunya. Pantai yang masih sangat alami dengan pasirnya yang putih dan hutan yang lebat. Saya merasa seperti berada di film The Beach dan Cast Away.
Masalah parkir kayak sudah terselesaikan, namun ada masalah lain yang menghadang. Teman saya bilang bahwa jarak pantai dan area terumbu karang terlalu jauh dan air laut yang dekat pantai terlalu keruh sehingga menghalangi pandangan ketika berenang. Benar juga, pasti akan cukup sulit bagi kami untuk berenang ke area terumbu karang. Teman saya punya ide lain, kami pergi ke arah terumbu karang menggunakan satu kayak dan meyelam bergantian. Tapi belum sampai ke tegah laut, kami mengurungkan niat dan kembali ke pantai, karena kayak kami beberapa kali hampir terbalik diombang-ambingkan oleh angin dan ombak yang terlalu kencang dan serta kelebihan beban. Bagaimana tidak kelebihan beban, lha satu kayak dinaiki dua orang. Akhirnya kami urungkan niat kami untuk snorkeling, padahal kami sudah terlanjur menyewa alatnya.
Kembali ke pantai Bama, kami mendapati suasana yang benar-benar sunyi. Empat orang pengunjung yang tadi mengayuh kayak bersama kami tadi sudah pergi lebih dulu. Seolah-olah hanya ada kami di pantai itu. Bahkan para macaca pun tidak ada.
Untuk mengobati kekecewaan karena tidak jadi snorkeling, kami menyusuri pantai Bama mencari beberapa obyek foto yang menarik. Pantai Bama sebenarnya cukup luas, namun sebagian besar area pantainya tertutup oleh hutan bakau. Kami pun tidak bisa menyusurinya lebih jauh lagi, kecuali kami berlayar menggunakan perahu. Tidak jauh dari pantai wisata ini, ada desa nelayan, namun kami tidak tahu rute yang harus ditempuh. Dan pastinya jaraknya cukup jauh, padahal kami tidak membawa kendaraan. Akhirnya kami harus cukup puas dengan berjalan-jalan di sekitar situ.
Mendekati tengah hari, kami meninggalkan Bama dan kembali ke Bekol. Ketika kami akan pergi, datang segerombolan wisatawan lokal, yang terdiri dari orangtua dan anak-anak. Begitu orang-orang ini turun dari mobil, para macaca yang tadinya hilang entah ke mana, tiba-tiba bermunculan dari berbagai arah. Mereka berlarian dan bergelantungan di dahan-dahan, menyerbu rombongan wisatawan tersebut, persis seperti yang mereka lakukan pada kami tadi pagi. Anak-anak kecil pun menangis melihat mereka. Dasar kera-kera nakal.

Meninggalkan BaluranKami putuskan untuk kembali di hari kedua. Awalnya kami akan menginap sampai hari Minggu, namun kami urungkan karena melihat tempat menginap yang tidak mendukung serta waktu perjalanan yang cukup lama. Kami putuskan untuk kembali lebih awal supaya masih bisa beristirahat. Sebelum pulang, kami sempatkan untuk duduk-duduk sejenak di tepi savannah. Menikmati suasana Baluran untuk terakhir kalinya sebelum kembali lagi ke sini entah kapan. Rasanya belum puas untuk mengeksplorasi Baluran hanya dalam dua hari.
Angin laut berhembus di tengah cuaca panas, menimbulkan rasa kantuk pada kami. Duduk di atas bukit berbatu, di bawah naungan pohon yang rindang, menatap ke arah hamparan savannah, serasa sangat menyejukkan hati dan pikiran. Mendengarkan suara angin yang berhembus dan suara rumput yang bergoyang, yang mungkin jarang kita jumpai di kota-kota besar.
Dalam perjalanan pulang menuju gerbang Batangan, saya bertemu lagi dengan kumpulan kupu-kupu putih yang terbang menari di sekitar saya. Seolah-olah mereka menyambut dan mengucapkan selamat tinggal pada setiap tamu yang berkunjung. Nyanyian burung hutan dan sinar mentari sore di balik gunung Baluran juga seakan turut mengantar kami pulang. Tempat ini benar-benar membuat saya jatuh hati. Pantas saja, ada seorang pengunjung dari Surabaya yang setia datang kemari, bahkan ia sudah tujuh tahun mengenal tempat ini. Taman Nasional Baluran, secuil Afrika di Pulau Jawa, yang menyimpan begitu banyak keajaiban dan keindahan alam.
Tips PerjalananAkses menuju Baluran cukup mudah. Anda bisa menempuhnya dengan kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi. Tempat ini berada persis di pinggir jalan raya yang menuju pelabuhan Ketapang. Jadi tidak usah takut untuk tidak bisa mendapatkan angkutan jika anda tidak membawa kendaraan pribadi. Dari Surabaya anda bisa naik bus jurusan Probolinggo seharga Rp.20.000,- per orang. Dari Probolinggo, silahkan anda berpindah ke bus jurusan Situbondo. Untuk mencapai lokasi TN Baluran, anda perlu merogoh kocek lagi sejumlah Rp.24.000,-.
Untuk kembali ke Surabaya, anda bisa menunggu bus jurusan Surabaya di depan pintu gerbang Batangan. Tempatnya cukup ramai dan aman. Tidak jauh dari situ ada kantor polisi dan selalu ada bus yang lewat di depan sana. Harga yang harus anda bayarkan untuk tiket kembali ke Surabaya adalah Rp. Rp.34.000,- dan tidak perlu transit.
Tiket masuk ke TN Baluran seharga Rp.2.500,- per orang, berapa lama pun anda menginap. Kalau anda membawa kendaraan, anda harus menambah lagi uang sejumlah Rp.6.000,- per kendaraan. Jika anda tidak membawa kendaraan, anda bisa menyewa ojek seharga Rp.30.000,- sekali jalan.
Pihak pengelola TN Baluran, menyediakan tempat menginap di Bekol dan Bama berupa wisma dan pesanggrahan. Harga yang ditawarkan berkisar antara Rp.25.000,- hingga Rp.35.000,- per orang per malam. Anda juga bisa menyewa satu wisma jika anda datang berkelompok. Pihak pengelola akan menyediakan makanan jika jumlah pengunjung minimal 20 orang. Jika tidak memenuhi jumlah tersebut, maka sebaiknya anda membawa bekal dari rumah. Ada baiknya anda konfirmasi dulu ke petugas terkait sebelum berangkat untuk memastikan hal tersebut.
Jika menginap, jangan lupa untuk mebawa lotion anti serangga untuk menghalau nyamuk dan serangga hutan yang lain. Ada baiknya juga anda membawa teropong untuk digunakan ketika melihat dari menara pengawas, dan juga senter yang bisa digunakan ketika safari malam.
Di pantai bama, kalau anda ingin snorkeling, anda bisa menyewa kayak dan peralatan snorkeling seharga Rp.75.000,-. Hati-hati terhadap kera-kera di sekitar pantai Bama. Amankan bekal dan barang bawaan dari mereka.
Waktu yang baik untuk melakukan kunjungan ke Baluran adalah di sepanjang musim kemarau. Anda bisa melihat segala jenis hewan berkumpul di savannah. Waktu yang paling bagus adalah sekitar bulan Agustus, di mana sedang terjadi musim kawin di lingkungan kerajaan binatang. Anda bisa melihat para pejantan saling bersaing untuk menarik perhatian hewan betina. Burung merak akan saling memamerkan keindahan ekornya dan para banteng akan saling beradu. Selamat berkelana.